Melawan Insecure Ala Si Coi

  Hidup itu dinikmati, nikmati apa yang terjadi, kata orang di sampingku. Begitu bijak semenjak punya rumah, mobil, gaji bulanan, kerjaan jelas, punya pasangan hidup, beli barang mahal tanpa melihat harga.
     Yah, mana mungkin aku bisa menikmati hidup sepertinya. Belum jadi apa-apa, masih harus berjuang keras. Kalau sudah punya segalanya bebas bilang, 'Nikmati saja,' tapi bagiku sekarang menikmati kesenangan rasanya menyesatkan.
     Sewajarnya saja, apapun itu bijaklah pada orang yang tepat. Mengeluh bukan berarti mau menyerah tetapi sedang berada di fase melepas kepenatan. Jangan lupa kalau manusia sifatnya memang suka mengeluh.
  Sebagai manusia pasti semua yang ingin diperlihatkan itu yang baik-baik. Coba perhatikan akun feed media sosial, postingannya sebagian besar merupakan suatu pencapaian yang sengaja diperlihatkan. 
   Tapi kenapa yah, bikin hati sesak saja? Padahal tadinya memberi pujian di kolom komentar. Lalu muncullah bibit kedengkian bilangnya ah, itu cuma pamer, riya'.
   Padahal dibalik cibiran kedengkian yang berani diucapkan sebenarnya tertuju pada diri sendiri karena merasa diri tidak mampu.
   Aku sudah sampai mana? Wah, sekarang temanku sudah jadi bos, punya dua anak, keluarga mapan, tiap pekan liburan dan segala pencapaian dilihatnya dari spill media sosial.
   Kenapa aku begini-begini saja? Seperti tidak ada kemajuan. Kemudian menghapus foto profil, menghapus semua postingan, mengosongkan akun, merasa rendah, tidak pantas bertemu dengan orang yang lebih hebat, merasa bodoh, tidak punya kelebihan dan akhirnya tersiksa dengan rasa insecure yang diciptakan pikiran sendiri.
   Aku dan semua pasti pernah merasa insecure. Terjebak dalam kecemasan dan ketakutan. 
   Takut tidak bisa menjadi seperti yang diharapkan, merasa bahwa keberadaan diri sendiri terancam gagal, tidak aman dalam satu lingkungan dan memilih untuk menyendiri.
   Stuck di satu tempat dan lupa bahwa semua apa yang terekam mata merupakan bagian dari proses pembelajaran hidup. Belajar menerima kenyataan bahwa setiap proses seseorang berbeda masanya.
  Insecure itu wajar, yang tidak wajar ketika seseorang terjebak terlalu lama dalam rasa kecemasan atau insecure itu sendiri, bisa fatal, akibatnya stres karena menuntut diri untuk diterima dan menyenangkan semua orang.
   Insecure sebenarnya wujud dari putus asa, jangan sampai begitu larut dalam kecemasan lalu lupa bergerak untuk melanjutkan proses karena merasa takut dan selalu merasa apa yang dilakukan pasti nilainya jelek di mata orang lain.
   Tidak, kawan! Tidak ada yang sempurna di dunia ini, wejangan itu sepertinya sudah terdengar membosankan namun memang begitulah kenyataannya.
   Aku punya teman, sebut saja si Coi yang hobinya main game, motivasi terbesarnya untuk lepas dari tugas kuliah dan wisuda cepat adalah game.
    Si Coi selalu terlihat ceria, tertawa dan berbagi cerita lucu di sela bermain game. Di saat yang lain sedang sibuk mengerjakan tugas justru temanku itu sibuk main game. Buat mereka yang tidak tahu selalu bilang, jika si Coi orangnya terlalu santai dan merasa bahwa main game yang dilakukan akan membuat nilai si Coi kacau.
  Di balik keceriaan si Coi, ternyata punya rasa insecure semenjak kuliah karena merasa salah lingkungan, mengeluh karena melihat jurusan teknik arsitektur yang didominasi cowok sedangkan di jurusannya sendiri didominasi cewek, pikirnya merasa kalah keren dan tidak punya teman sefrekuensi. 
    Namun, si Coi sekedar meluapkan keresahan dan tetap menikmati hari-harinya. Tidak peduli apa yang dikatakan orang-orang jika dirinya selalu gabung dengan Mahasiswi dianggap kecewek-ceweaan karena menurutnya keadaan memang begitu, anggap saja solidaritas.
   Apa yang terjadi? Si Coi menjadi lulusan tercepat dan sekarang menjadi salah satu tentor bimbel ternama di Ibukota.
Dan entah mengapa sekarang banyak yang mengatakan bahwa pencapaian yang diraih si Coi tidak adil. Seakan-akan menyalakan Tuhan. 
'Orang yang hobinya main game malah sekarang jadi orang sukses? Juga lulus beasiswa padahal sewaktu kuliah hobinya main game. Sedangkan orang yang berusaha keras, belajar tekun justru sekarang belum jelas kerjaannya.'
   Begitu keluhan demi keluhan yang dilontarkan. Secara tidak langsung terjebak dalam insecure.
Sampai kapan menyalahkan keadaan? 
Insecure pastinya, mau menangis sejadi-jadinya juga tidak akan mengubah keadaan. 
   Dari si Coi, aku belajar banyak bahwa hidup ini memang tidak terlepas dari rasa takut dan kecemasan namun ada baiknya menanggapi permasalahan dengan seni kehidupan. 
Nikmati saja ...
   Hidup itu ada seninya begitu pula melawan insecure, juga ada seninya. Cobalah tertawa sejenak dan katakan pencapaian mereka biasa saja, aku juga bisa tapi bukan sekarang. Pede saja dulu, agar mental tidak tertekan.
   Seni melawan insecure ala si Coi yaitu dengan menyenangkan diri sendiri. Hobinya main game untuk mengantisipasi keberadaannya, tidak mungkin terus-menerus melakukan aktivitas di lingkungan yang didominasi cewek, karena cowok juga punya dunianya sendiri.
   Siapa sangka di balik hobinya main game ternyata si Coi selalu mengerjakan tugas dengan cepat, memahami materi kuliah dengan sigap dan selalu fokus saat sedang bertindak. Hanya saja, semua proses itu tidak terlihat yang diperlihatkan justru sampai kampus, jarinya sudah sibuk dengan game.
Jadi, stop insecure! 
Semua orang berhak berekspresi, berkarya dan berkontribusi.
   Berani melakukan apa yang disenangi tanpa peduli jika harus menghadapi cibiran. Karena yang sedang berproses bukan orang lain tapi diri sendiri. Lagipula hidup ini tidak sedang lomba lari jadi tidak perlu dibandingkan, sangat sulit jika memaksakan diri untuk sampai di garis yang sama.
   Ada baiknya kembali pada diri sendiri, mengoreksi kesalahan, tidak perlu banyak motivasi cukup buktikan dengan aksi. 
   Aksinya perlu diumbar atau tidak? Terserah mental masing-masing. Kesehatan mental lebih penting. Jika kepopuleran menjadi titik puncak mungkin aksinya hanya sesaat, tapi cobalah bertindak dengan aksi yang nyata di mana diri dan Tuhan yang menjadi saksi betapa hebatnya perjuangan menghadapi segala tantangan.
   Aku yakin setiap tantangan jika dihadapi dengan penerimaan akan membuat bahagia tanpa mengharapkan pengakuan dari pujian yang sifatnya sesaat.
   Sebagian orang memilih untuk menyembunyikan prosesnya karena merasa bahwa dirinya belum pantas untuk berbagi karena sedang merasa berada di titik terendah. Menurutku, tidak masalah. Bukankah seseorang dapat dikatakan menginspirasi ketika sudah berhasil? Nyatanya hasil akhir selalu menjadi tolak ukur penilaian.
    Tenang, besok ada kejutan dan selesaikan prosesnya. 
    Insecure sebaiknya dibuang dulu, santailah menyikapi dunia, semua ada waktunya. Tersenyum dan lihatlah langit luas, terhampar harapan dan kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

Kurniah K.
  .