Petualangan di Tanah Rantau

        Papa selalu bilang jangan menjadi aku. Pesannya pada dua puluh tahun silam. Maksudnya jangan jadi aku itu, jangan menjadi sepertinya yang bekerjanya bersimbah tanah dan lumpur hanya demi selembar rupiah.
     Aku tidak pernah dipaksa belajar oleh papa namun selalu diberi motivasi dengan kalimat, Jadilah manusia yang dapat memanusiakan. Papa sangat berharap anaknya tidak memliki masa depan sepertinya melainkan masa depan yang cerah dikursi kinclong. Meskipun aku tidak dipaksa belajar tapi aku tidak pernah lepas dari peringkat kelas. Bukannya merasa pintar hanya saja merasa beruntung.
    Aku sebut itu sebagai keberuntungan karena orang tuaku tidak memiliki latar belakang pendidikan. Papa tidak bisa baca, mama bisa sedikit terbata-bata. Makanya aku sebut ini keberuntungan. Mungkin di luar sana orang dengan mudahnya mendapat pengajaran dari orang terdekat, berbeda denganku yang belajarnya otodidak sepulang sekolah.
Hingga aku sadar bahwa betapa pentingnya ilmu untuk kehidupan yang lebih baik. Hanya dengan pendidikan aku bisa keluar dari sulitnya kehidupan. Maka disaat itu juga aku memiliki impian untuk keluar dari kampung halaman dan bertekad untuk melihat luasnya dunia.
     Sulitnya hidup membuatku berjuang keras. Memeras otak dari pagi ke pagi. Aku berusaha menduduki peringkat kelas. Jujur, aku bukan anak yang cerdas, aku percaya bahwa dunia ini bukan hanya untuk orang cerdas dan tidak ada yang terlahir bodoh karena kepintaran dapat tercipta dengan belajar,
     Saat di rantau seperti ini, lagi dan lagi aku mengingat papa yang setiap hari menjelang pagi sudah berangkat bekerja. Jika mentari telah memancarkan panasnya berarti ia sudah merasa terlambat. laganya seperti orang kantoran yang akan kena marah oleh atasannya. Ternyata langkahku semakin jauh saja dalam menapaki ilmu hingga sampai ke tanah metropolitan dengan gedung besar yang mudah terlihat dan fasilitas pendidikan yang lebih baik.
Merantau adalah pilihan yang tepat. Memberanikan diri untuk jauh dari orang-orang tercinta. Hidup di tanah rantau sebenarnya tidak mudah, hanya orang-orang yang berjiwa besar yang berani keluar dari zona nyaman.
    Aku lulus di Universitas Negeri. Sebagai mahasiswa yang berasal dari keluarga kalangan menengah bawah pasti sering merasakan kesulitan apalagi masalah keuangan.
    Merantau bukan hanya tentang perjalanan melainkan petualangan yang penuh tantangan. 
    Di kota, telingaku sudah kebal dengan pengaruh negatif. Aku berusaha memilih teman yang mau mengajak dalam kebaikan dan menjauhi orang-orang yang hanya membuang-buang waktu. Karena bagiku mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu merupakan hal yang sangat berharga.
    Seteguk harapan di balik jendela perantauan. Prinsip yang pernah diajarkan papa kepadaku banyak berguna di kota orang.
   Tanpa uang di kota tidak bisa makan, tidak ada yang gratis. Makanya aku berpikir untuk bergerak dan mencari dana hidup tambahan. Kukerahkan semua skill yang ada bahkan rela belajar sampai subuh ,setiap hari aku sibuk belajar untuk bekal mengajar. Mengerahkan bakat bahasa dan menulis. Mulai dari hemat sampai ngirit banget.
  Aku mengikuti kursus bahasa inggris agar dapat mengembangkan bahasa. Mengikuti kelas yang kebetulan promo, lumayan murah dan terjangkau. Kemudian menambah kursus di tempat lain bersama teman satu kelasku selama 3 bulan juga dengan kelas promo. Aku harus lebih hemat lagi, menyisihkan beberapa uang setiap harinya dan harus puasa senin kamis. Bukan bermaksud ngirit tapi hemat dan berkah karena boros itu temanya setan hehe, lumayan buat melatih kesabaran.
      Jangan lupa membaca. Di perantauan itu sulit mendapatkan nasehat dan wejangan sementara akal selalu butuh motivasi dan inspirasi. Jangan khawatir karena selalu ada buku. Aku selalu mendapat insipirasi dari buku-buku motivasi dan senang melakukan apa yang dilakukan orang sukses sebelumnya. Jangan lupa membaca Al-quran karena Al- qur'an adalah kitab terbaik yang dikirim Allah. Begitu sempurna dan mengajarkan kesungguhan, keikhlasan serta kesabaran. Aku selalu yakin bahwa Allah maha kaya. Dimana pun kaki berpijak jangan pernah melupakan Tuhan.
     Aku tidak pernah khawatir dengan apa yang akan kumakan hari ini dan selalu yakin bahwa hari ini Allah akan memberiku kehidupan yang cukup. Meski terkadang sepeserpun uang yang kupegang tidak ada.
 Ternyata mencari uang seberat ini. Tujuh puluh ribu rupiah dalam 90 menit. Aku mengajar privat di salah satu tempat. Mendatangi beberapa siswa dari kalangan elit yang ingin diajar. Beberapa mata pelajaran yang kuajarkan sebenarnya bukan fokus jurusanku, untung saja ada sedikit skill dari SMA sehingga aku bisa mengajarkannya. Sebenarnya mengajar di kota orang tidak mudah karena dialeg yang berbeda. Makanya setiap hari aku belajar beretorika dengan formal. Intinya orang kampung ke kota harus banyak belajar.
Sepulang mengajar, sorenya harus kajian untuk menimba ilmu agama juga memperkuat mental. Sabtu minggu disibukkan dengan organisasi, lembaga, dan komunitas. Tidak lupa tugas kuliah yang sudah menjadi teman akrab. Kemudian mencari uang saku tambahan dari menulis di koran dan menjadi asisten laboratorium.
Saat malam sebelum tidur aku sudah menyusun rapi semua daftar pekerjaan yang akan kulakukan mulai dari bangun jam tiga,mencuci, berangkat dan hal kecil sekalipun seperti memakai baju. Semua tercatat dalam buku. Kebiasaan itu sudah kulakukan sejak semester satu hingga sekarang semester enam. Sejak kecil aku sudah terbiasa diatur, bersikap disiplin dan bisa dikatakan Papa mendidikku secara otoriter. Karena itu, aku tidak terbiasa hidup tanpa aturan. Dulu aku terkadang muak dengan aturan dan kedisplinan namun ternyata itulah yang membuatku sadar saat jauh dari keluarga. Merasa bahwa aku sangat membutuhkan aturan. Daftar pekerjaan yang setiap hari kubuat dan setiap malam kulist setidaknya dapat menggantikan semua aturan yang diterapkan papa.
  Aku bukanlah mahasiswa terbaik di kampus bahkan bisa dikatakan aku tidak sepopuler mahasiswa yang bisa masuk koran tribun atau media online. aku mahasiswa biasa yang bertekad mengejar impian.
Jangan katakan manisnya berpetualang di kota orang. Karena perantauan bukan saja tentang story wisata. Di balik indahnya foto rantau ada sendu yang berusaha sembuh. Banyak yang bilang enak di kota orang bisa jalan kemana saja. Padahal yang dilihat hanyalah sampul saja. Belum tenggelam dalam inti ceritanya.
Merantau sudah terbiasa dengan kata rindu. Banyak siswa yang takut merantau, takut perjalanan jauh apalagi jika seorang diri. Hanya pemberani yang mampu merantau. Berani beradaptasi dengan lingkungan baru, berani mengejar impiannya di luar daerah dan berani belajar hal baru.
Jihad di jalan ilmu adalah caraku merantau. Jika ingin merasakan manis pahitnya hidup maka merantaulah. Merantaulah! Orang berilmu dan beradab tidak diam di kampung halaman.