Move On Dari Skripsi

    Bisa-bisanya aku khawatir masalah masa depan padahal ajal selalu mengintai. Bayangkan saja, ketika semua sudah lulus aku harus berjuang sendiri, ketika semua orang merayakan pesta sedangkan aku harus berdiam diri, ketika semua sibuk mengejar tanda tangan justru aku sibuk berobat ke sana kemari dan ketika teman-teman sudah mengenakan toga justru aku harus merasakan pahitnya obat setiap hari.
     Ketika seangkatan sibuk mempercantik diri, aku malah sibuk berperang dengan diri sendiri. Itu tidak mudah, berat? Jelas. Pantaskah membandingkan diri dengan mereka? Tidak. Karena aku yakin Allah merencanakan hal yang lebih indah.
    Tidak mudah bagiku untuk tersenyum namun selalu kuhadirkan senyum saat mereka bertanya bisa? Bisa. Selalu berusaha karena kekuatan Allah aku masih bertahan dan diberikan kesempatan untuk terus bernapas.
     Mungkin harus mengetik perlahan, pengennya cepat selesai dan terbebas dari satu beban yang hampir dua tahun mengganggu pikiran namun kemampuanku terbatas bahkan sangat lambat.
     Saat itu, dengan terpaksa aku harus vakum dari dunia perkuliahan, melepas apa yang kusenangi, karena mentalku sedang diuji keadaan. Diskusi tersirat di balik monitor laptop mulai berisik di ingatan. Sedangkan di sini aku berusaha berperang dengan diri sendiri.
    Semua menanti keadaan seperti dulu, ingin kembali tersenyum lepas tanpa beban, ingin beraktivitas tanpa kekhawatiran, ingin bernafas lepas tanpa sesak karena maskeran. Ingin keluar daerah tanpa harus sertifikat vaksin, semua maunya hidup normal dan sehat.
    Inilah dunia sekarang dimana yang sehat akan hidup dan yang sakit perlahan disuntik mati keadaan. Banyak yang kehilangan pekerjaan, Orang tersayang, bahkan kelaparan. Banyak juga yang hanya diam saja melihat pemberitaan dan penderitaan.
     Aku hanyalah penderita autoimun yang sulit bergerak dan membawa beban berat apalagi berita tiba-tiba datang dari kampus yang mempertanyakan kapan sidang.
    Sulitnya mendapatkan motivasi karena sibuk saling menghakimi sehingga lupa mengasihi, fokus pada diri sendiri, keegoisan dan materi seakan menghapus toleransi. Sebagian berkata, yang sakit bukan lemah imun hanya lemah iman karena ibadah yang kurang. Betapa banyak yang waktunya merugi hanya untuk menghakimi keadaan yang lain.
    Tidak seindah buket bunga saat perayaan seminar. Begitu banyak kepahitan dan seluruh keinginanku berganti menjadi satu doa setiap waktu, biarkan Allah yang mengatur semuanya.
    Hingga aku berada di titik terlemah, terbaring tak berdaya. Disaat semua menjauh dan keadaan seakan saling menyalahkan, tidak dapat berdiri dan dalam kondisi tidak dapat berjalan. Mana mungkin revisiku bisa selesai.
   Skripsi itu sulit. Semua orang punya tantangan, pasti ketemu yang namanya ujian. Apalagi pada saat penelitian dan penyusunan, pasti ada saja kendalanya.
   Gelar sarjana itu tidak semudah membalikkan telapak tangan kemudian langsung dapat. Jadi berhentilah menjatuhkan mental mahasiswa akhir dengan pertanyaan kapan, apalagi jika ditambah perbandingan ini itu, dia sudah selesai kamu belum. Stop! Harusnya semua tahu bagaimana sulitnya memparafrase referensi, melakukan riset di Laboratorium berulang kali sampai dapat hasil, ditambah pengolahan data, analisis yang menguras pikiran. Kemana-mana yang terbayang skripsi, itu tidak mudah.
    Aku telah melewati proses itu, skripsian di tengah wabah Corona, sakit-sakitan dan berulang kali bolak-balik lab, bolak- balik berobat, harus drop beberapa kali. Dan ke sana kemari cari jaringan.
  Kadang aku juga bertanya, 'KAPAN' seakan menuntut keadaan untuk berjalan sesuai keinginan.
    Kadang aku meminta agar segala keinginan segera dikabulkan. Aku begitu terlena dengan segala keinginan dan menganggap keinginan sudah menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi.
    Aku berusaha keras mendapatkannya dan menggapainya hingga aku sampai di titik kekalahan.
    Aku kalah dengan keinginan itu sendiri, lalu mengatakan semua tidak berguna, semua yang dilakukan sia-sia, semua yang terlewati tidak berharga sama sekali, rencananya dianggap gagal, merasa sangat bodoh, merasa sangat rendah, merasa tidak pantas dan pada akhirnya hadir perasaan hampa.
     Keinginan sangatlah banyak, jika segala sesuatu diikuti hanya karena keinginan maka perasaan gelap telah menyelimuti logika sehat, bisa depresi bahkan gila.
    Mental sedang diuji dengan begitu banyak keinginan, keinginan yang hadir dari apa yang dilihat. Dari kemewahan, keistimewaan dan segala sesuatu yang menarik. Hingga timbullah ekspektasi pada diri sendiri.
Kemudian, terjatuh. Terkurung dalam keadaan yang sempit. Lalu semua disalahkan.
Padahal ada satu yang terlupa .... Aku melupakan diri sendiri. Aku terlalu berharap pengakuan dari orang lain dan berharap mendapatkan pujian.
    Aku lupa melihat hakikat kehidupan hanyalah sebuah ujian. Lihatlah apa yang ada dan terimalah dengan apa adanya.
 Saatnya move on dari keterpurukan!
   Aku ini lemah saat dihadapkan dengan segala keinginan untuk tampil sempurna. Tuntutan keadaan yang tidak pernah puas dengan mudahnya larut dalam kehidupan. Aku lupa bahwa rasa cukup dan syukurlah sejatinya keinginan yang kubutuhkan.
    Saatnya move up untuk bangkit karena sekarang kedewasaan telah menghampiri dan harus bertanggung jawab dengan hal yang lebih besar termasuk mempertanggungjawabkan gelar di belakang nama.
   Terus berusaha meski banyak yang berkata sehat dan beraktifitas normal tersisa harapan. Aku tidak peduli. Selama aku masih bernafas, tangan dan kaki bisa bergerak itu artinya Allah masih memberiku kesempatan untuk menyelesaikan semuanya.
    Perjalanan yang begitu panjang, proses yang lambat, penuh ujian dan tantangan. Aku berterima kasih pada diriku sendiri yang sedang mengajakku membatin dan bertahan sampai detik ini.
      Saatnya move up untuk hari yang baru. Ternyata aku bisa melewati segala kesulitan itu meski hampir setiap hari harus menangis karena kesakitan, tiba-tiba sedih karena revisian, tiba-tiba murung karena perkataan orang, harus merasakan drop setiap saat karena kelelahan mengetik.
   Jika diflashback, dulu aku itu sangat cengeng gara-gara tugas akhir. Tapi sekarang, justru aku merasa sangat kuat. Karena hari ini sudah saatnya tersenyum sebagai lulusan sarjana sains.
   Move On dari skripsi merupakan cara jitu untuk menyelesaikan skripsi dengan keikhlasan menghadapi segala tantangan, bukan berarti mengundurkan diri.
   Merelakan apa yang telah terjadi dan Move up untuk menjalani proses hidup berikutnya.