Terlihat tenang bagai telaga, terlihat diam padahal sedang sibuk dalam kepala. Satu persatu pencapaian merasuk menjadi perbandingan, berisik. Otak dan hati beradu, saling menguatkan namun sebenarnya rapuh.
Setiap membuka media sosial seolah dihantam pameran pencapaian. Mulai dari remaja, dewasa, jomblo sampai yang sudah menikah; pamer anak, tahta, jabatan dan wanita.
Bisingnya kepala bertambah saat gemuruh peluru notifikasi WhatsApp menghantam mental. Membuka grup dengan suguhan berbagai prestasi teman seangkatan sedang naik daun, euforia puji-pujian pun mendrama.
Satu tahun aku mengasingkan diri dari media sosial, lalu kubuka kembali berharap mendapatkan motivasi, ternyata tidak. Justru dihadapkan dengan banyaknya pertanyaan. Membuat murung dan berhari-hari tidak keluar rumah, takut bertemu monster when and why. Kusebut monster when and why; selalu membuat kata mengapa dan kapan gentayangan di pikiran.
Kapan melanjutkan studi? Kenapa belum sembuh? Pertanyaan yang paling parah, kapan sembuh? Bolehkah sekali saja diam.
Riuh di kepala, overthinking mematikan ambisi, lantas harus ke mana? Kata mereka tidak ada lagi harapan, kata dokter perbanyak istirahat, hidupku seperti stuck di satu tempat.
Miris rasanya ketika berkabar bukan lagi suatu keistimewaan apalagi merasa diistimewakan. Aku memilih memblokir semua kontak orang di luar sana kecuali keluarga. Tidak ada manusia yang ingin kabar buruk, semua ingin mendengar kabar menyenangkan.
Sesekali mencoba untuk meluapkan isi kepala saat masalah tidak dapat lagi terbendung, namun ternyata respon orang-orang justru semakin menambah riuh, menjadi sampah di pikiran. Katanya aku ini sad girl, dianggap berlebihan, kurang syukur bahkan menjudge diri ini kurang iman. Begitu banyak panitia surga dengan anggapan sakit sebagai hukuman dari Tuhan.
Padahal, jiwa ini berontak mencari jalan keluar dari banyaknya riuh di kepala.
Sumber kecemasan paling banyak sebenarnya adalah media sosial apalagi baru- baru ini grup WhatsApp diramaikan pencapaian teman seangkatan yang lulus beasiswa ke luar negeri. "Kenapa aku tidak seberuntung itu?" keluh salah satu penghuni grup. Aku memilih diam dan menyimak satu persatu obrolan yang saling membandingkan diri sampai akhirnya muak lalu memberanikan diri mengetik bahwa keberuntungan setiap orang itu berbeda. Boleh iri tapi jangan membandingkan karena langkah setiap orang berbeda, semua sedang berproses dan pasti berpikir untuk berubah.
Sampai kapan seperti ini? Sadar bahwa hidup harus berlanjut, sadar bahwa diri sedang putus asa, sadar bahwa semua belum berakhir.
Akan ada fase quarter life crisis; krisis identitas, suatu fase kehilangan arah, merasa bahwa kehidupan ini penuh jebakan, perbandingan pencapaian yang membuat insecure bahkan takut sendiri.
Pernah berpikir tidak akan takut sendiri dengan sisi keberanian introvert, terbiasa menyelesaikan masalah menggunakan strategi dan memendam luka sendiri meski harus diam berhari-hari.
Akan tetapi dunia semakin membuatku sadar bahwa tidak ada manusia yang siap kesepian, semua orang butuh tempat pulang, butuh teman sebagai pendengar yang tidak menghakimi.
Maraknya konten quotes seperti sekarang membuatku sedikit risih karena introvert seolah menjadi pusat perhatian dari ekstrovert, mengaku sebagai introvert untuk memancing agar introvert bisa oversharing. Introvert bukan makhluk yang ingin populer. Tidak mudah, inginnya tenang akan tetapi menjadi pusat perhatian. Inginnya mengamati tetapi sekarang malah jadi sorotan, seolah dunia peduli nyatanya semakin menambah beban, introvert semakin dituntut untuk keluar dari zona nyamannya.
Introvert hanya butuh ketenangan saat dalam masalah, memilih diam dan berdiskusi dengan pikiran sendiri. Menghilang dari media sosial lalu membuang semua sampah dalam pikiran.
Semakin larut malam semakin larut riuhnya bahkan aku pernah tidak tidur selama tiga hari berturut-turut memikirkan banyaknya target hidup yang belum tercapai.
Media sosial tidak dapat dikendalikan apalagi mulut orang lain yang berbicara semaunya, banyak tanya seperti Dora; ke manakah akan pergi? Jalur mana yang harus ditempuh? Atau katakan peta.
Meredam riuh di kepala, berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Salah satu cara agar perbandingan itu tidak terjadi adalah puasa media sosial. Tidak masalah jika harus memprivasi semua akun, menonaktifkan centang biru, atau menghapus aplikasi, unjuk keberanian mengatakan tidak pada apa yang tidak sejalan dengan pikiran dan menghindar dari segala sumber kecemasan yang tidak perlu dilihat.
Saatnya menata ulang hidup, menata kembali isi kepala dengan hal-hal yang baik, menyadari bahwa keadaan sekarang wajar terjadi sebagai fase normal dalam kehidupan Yang bisa dikendalikan adalah diri sendiri.
Aku memilih untuk puasa media sosial sampai mentalku kuat, mampu berdamai dari pertarungan riuh di kepala, benar-benar sembuh dan siap menghadapi kerasnya dunia.
Keputusan ini memang harus diambil dengan penuh pertimbangan, karena diri harus siap mental untuk tidak melihat trend yang sedang terjadi, tidak terpengaruh dan fokus melawan diri sendiri, memperbaiki hubungan dengan Tuhan sebagai upaya kesembuhan.
Berkomitmen untuk puasa media sosial dan menggantinya dengan mendekatkan diri pada Al-Qur'an. Bagiku tidak ada quotes yang mendamaikan selain firman Allah, tidak ada sahabat sejati kecuali Al-Qur'an yang akan menemani sampai hari penghisapan.
Setiap orang punya cara untuk meredam riuh di kepala dan setiap orang berhak bahagia dengan pilihannya. Bukan masalahnya yang rumit tapi pikiranlah yang membuat keadaan semakin sulit.
Dunia memang sering membuat bingung, jika terus-menerus dipikirkan maka hidup justru tidak terarah bahkan tersesat di jalan yang paling gelap. Dan ada benarnya juga saat orang mengatakan riuh di kepala sebab kurang iman karena ketika Allah sudah menjadi tujuan pasti tidak ada lagi kekhwatiran apalagi kecemasan terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sadar bahwa tugasku bukan mengendalikan apa yang akan terjadi di kemudian hari akan tetapi tugasku menjalani apa yang bisa diubah hari ini dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Redamlah riuh di kepala dengan menjauhkan diri dari banyaknya kemudaratan dunia, jadikan hidup berkualitas dengan memperbanyak mengingat sang kuasa karena hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.
Kurniah K.