Pantang Pulang Sebelum Sarjana
(Instagram : @__kurniahk)
Kapan pulang? Pertanyaan yang selalu dilontarkan ketika berkabar pada kerabat atau keluarga, terutama pada ibu. Ibu yang selalu menanti kepulangan seorang anak yang sedang jauh menuntut ilmu.
Namun sering kali pertanyaan kapan pulang justru menjadi beban. Tidak ingin pulang dengan tangan hampa apalagi belum menjadi apa-apa.
Dengan prinsip pantang pulang sebelum sarjana, seorang teman sebut saja Yusram bukan tanpa alasan, kawanku itu hanya ingin membuktikan pada semua orang yang pernah mencaci ibunya sebab miskin dan tidak mungkin bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi, alasan itulah yang membuat Yusram berjuang keras untuk mendapatkan beasiswa.
Ketekunannya dalam belajar tidak tanggung-tanggung. Perpustakaan adalah tempat akrabnya, juga aktif di berbagai kegiatan sebagai seorang aktivis. Kampungnya ada di seberang pulau, aku yakin sang ibu sangat merindukan yusram kawanku itu.
Saat mudik semua mahasiswa akan kembali ke kampung halaman, akan tetapi berbeda dengan Yusram, selalu menjadi penghuni pondok sejati.
Terlihat di wajahnya menyimpan banyak beban, menyadari keberadaanku, Yusram ternyata punya alasan pribadi kenapa tidak pulang kampung meski diminta oleh orang tuanya. Tentu saja karena finansial, untuk kembali ke kampung halaman ongkosnya cukup akan tetapi untuk kembali lagi ke kota tempatnya menuntut ilmu harus berjuang keras, banting tulang untuk mendapatkan biaya pulang, beasiswa yang diperoleh tidak untuk transportasi hanya cukup untuk biaya uang kuliah tunggal dan sangat bersyukur bisa merasakan bangku kuliah.
Seketika aku terdiam, menyadari bahwa ternyata selama ini aku begitu egois, betapa sedihnya menjadi Yusram saat melihat semua teman pondokan pulang sementara ia seorang diri kesepian, mungkin menyikap mata berkaca, tapi aku selalu tertawa ceria saat akan mudik dan mengejeknya sebagai penunggu kost, rumah kost-kostan yang berderet banyak kamar dengan sebutan pondokan di kota Daeng.
3 tahun berlalu, Yusram masih menghabiskan waktunya di tanah rantau. Benar-benar tidak pernah pulang, menyibukkan diri dengan segala macam cara untuk bertahan hidup, mulai dari mengajar, menulis di koran, menjadi asisten bahkan pernah mengajar privat dari rumah ke rumah.
Begitu banyak kejadian yang tak terduga, tiba pada masa KKN, berita buruk dari kampung halaman harus didengarnya dengan rasa pilu, duka berkabung, kakaknya menghembuskan nafas terakhir. Selama ini, Yusram tidak pernah tahu keadaan saudaranya di kampung halaman yang sedang sakit parah.
Ingin rasanya menciptakan pintu ke mana saja agar Yusram bisa secepat kilat menyebrangi luasnya lautan biru dan kembali dengan selamat namun hal seperti itu hanya ada di dunia Doraemon. Kutawarkan bantuan pada Yusram dengan beberapa uang yang kumiliki agar segera kembali melihat kakaknya untuk terakhir kalinya namun Yusram dengan mata berkaca-kaca, tertunduk mengatakan bahwa doaku akan lebih cepat sampai, biarkan aku mengirim doa untuk kakakku, doa keselamatan, Al Fatihah akan lebih berguna dibandingkan keberadaanku di sana.
Jihad di jalan ilmu begitu banyak ujiannya, begitu banyak pilihan, tidak semua orang bisa melewati proses demi proses dengan masalah yang silih berganti, jangan tanyakan caranya namun lihatlah betapa hebatnya petarung akademisi yang selalu yakin bahwa dengan ilmu dan akhlak dapat mengubah keadaan seseorang, seperti itulah impian Yusr am yang ingin mengubah keadaan.
Tidak ada pilihan selain bertahan dan melaksanakan pengabdian sebagai mahasiswa KKN, Yusram terlihat bijaksana dengan tutur katanya yang sopan di depan warga juga tertawa ceria di depan anak-anak desa tanpa memperlihatkan sedikitpun kesedihan.
Waktu berlalu, satu persatu proses perkuliahan dilaluinya, hingga tiba sidang proposal, tentu saja Yusram mendapatkan kesempatan yang lebih cepat karena ketekunannya. Namun lagi-lagi tidak berjalan sesuai harapan, satu Minggu sebelum seminar; pada proses pemberkasan, laptopnya tiba-tiba mati, mungkin karena virus dan tidak dapat kembali normal, sementara itu seluruh filenya ada di dalam laptop tersebut.
Paginya, laptop dibawa ke tukang servis, berharap keadaan laptop kembali normal. Dengan wajah tegang, aku melihat Yusram terlihat panik, bagaimana tidak panik, jadwal seminarnya akan di laksanakan dua hari lagi. Tersisa harapan, tukang servis laptop seharusnya tidak mengatakan hal yang buruk, apalagi sampai mengatakan bahwa mesinnya rusak dan harus diganti. Matanya membulat sempurna, berpikir keras mengenai biaya dan mungkin saja saat perbaikan seluruh file akan terhapus tanpa sisa.
Sabar, begitu kataku pada Yusram saat berada di Pondokan. Tentu saja seorang laki-laki tidak akan mudah memperlihatkan kesediaan, pantang untuk terlihat lemah meski beberapa kali mengusap kasar wajah sendiri karena bingung harus berbuat apa.
Pakai saja laptopku, berbagai solusi kuberikan dibalasnya dengan diam, lalu berdiri dan bergegas menuju kampus, “Saya mau ke masjid kampus,” ucap Yusram. Untuk apa ke masjid? Seharusnya ia mengerjakan propsalnya yang terhapus. Karena aku kerjaan nya ikut-ikutan tentu ke mana pun Yusram aku pasti ikut, bestielah kalau kata anak muda sekarang.
Sesampainya di mesjid kampus, Yusram mengabil wudhu, begitu juga denganku. Kemudian masuk ke masjid dan melakukan sholat duhur. Setelah sholat, Yusram terlihat begitu khusuk berdoa, berzikir setelah itu membaca Alquran di sudut masjid. Sementara aku, ingin cepat pulang lalu tidur, tapi aku tidak tega meninggalkan sobatku itu.
Dalam perjalanan pulang, Yusram mengatakan bahwa apapun yang terjadi itu yang terbaik, tenang ada Allah. Aku diam mendengarkan monolog yang dilontarkannya untuk dirinya sendiri. Monolog yang kupikir hanya sekedar penenang untuk orang bermasalah, namun ternyata monolong yang diucapnya justru menjadi doa.
Selalu ada keajaiban bagi hamba Allah yang berserah, Yusram menghampiri tukang servis untuk mengambil kembali laptopnya meski harus menerima kenyataan jika filenya terhapus. Ternyata Allah maha baik, begitu mudah membolak-balikkan semuanya menjadi baik. Tukang servis mengatakan bahwa laptopnya kembali pulih setelah beberapa saat dinyalakan dan ternyata mesinnya kembali normal, semuanya baik-baik saja hanya perlu diinstall dan tidak perlu khawatir dengan filenya yang telah dicadangkan.
Maha besar Allah, semenjak kejadian itu aku menyadari bahwa selama ini aku begitu kufur dan sering mengabaikan keajaiban doa. Masalah yang telah dilalui Yusram membuatku sadar bahwa semua akan kembali kepada Allah apapun keadaannya dan Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya dalam keadaan apapun.
Singkat cerita, tahun berlalu setelah toga berhasil diraih dengan predikat terbaik, Yusram mendaftarkan diri sebagai PNS dan keajaiban sungguh menuntun prinsipnya, ia kembali pulang ke kampung halaman dengan membawa gelar sarjana juga status PNS.
Sekali lagi aku menyadari bahwa semua berasal dari Allah, untuk beribadah kepada Allah dan kembali pada Allah, semuanya pasti akan pulang maka bersiaplah.