Ada yang dulu menjauh sekarang malah mendekat juga sebaliknya, ada yang dekat justru sekarang menjauh. Ada yang dulu pura-pura tidak kenal sekarang sok kenal. Dulu ada yang menertawakan sekarang memberi tepuk tangan.
Luka penolakan beberapa kampus membuat hidupku berubah total. Dari yang dibanggakan menjadi sangat direndahkan. Sebelumya dibanggakan namun semua berubah menjadi cacian saat kekalahan menimpaku.
Saat jatuh aku ada untuknya. Namun saat aku yang jatuh mereka menghilang. Semua berubah seakan aku bukan lagi siapa-siapa, hanya sebatas alarm yang harus dimatikan.
Aku Pernah jadi korban Nepotisme saat di Sekolah, nilai raporku dipalsukan. Sakit rasanya saat mengetahui semua itu di saat pengambilan ijazah di mana terjadi perdebatan sengit antar guru sementara aku berada di posisi kebingungan, tidak habis pikir saat raporku diminta sebagai tanda bukti.
Aku tidak mengerti dengan sebuah alasan bahwa nilaiku berubah karena pergantian kurikulum namun di lain tempat aku mendengar bahwa nilaiku berubah karena satu mata pelajaran yang dianggap sebagai pelajaran manusia cerdas menjadi kelemahanku sehingga dengan terpaksa semua nilai berubah secara nyata. Nilaiku dipalsukan tapi semua diam membiarkan hal itu mengalir begitu saja.
Sejak saat itu aku sulit percaya dengan siapapun termasuk teman bahkan memutuskan untuk tidak bersahabat dengan siapapun karena takut akan dikhianati sama seperti orang kepercayaan yang dianggap begitu jujur namun nyatanya berkepribadian ganda.
Tanganku belum sepenuhnya memaafkan sebelum dunia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak bodoh bahkan tidak seharusnya namaku tidak dipindahkan ke kelas perollingan.
Ketika Sekolah memandang mayoritas, apa jadinya mereka yang minoritas. Jika kebijakan keluarga ikut campur demi mendapatkan penghargaan dan martabat di mata masyarakat.
Apa gunanya lembar nilai? Saat kurikulum telah ditetapkan namun ada saja yang sengaja mengubah penerapannya. Deretan nilai yang seakan berbicara tentang kepalsuan.
Aku masih mengingatnya. Putih abu-abu yang katanya diisi kebersamaan dan keceriaan justru habis terlahap ambisi dan sakit hati.
Kelas di ujung Ruang guru masih jelas terlukis diingatanku, saat sejuta pertanyaan menghantui setiap langkah yang terlewati. Semua yang terjadi bukan karena perubahan kurikulum tapi ada yang tega mengubah nilaiku.
Aku harus menerima kenyataan bahwa nilai pada semester kedua tidak dapat menyelamatkan namaku untuk bertahan.
Ambisiku seketika gugur, berjatuhan bersama serpihan harapan. Tersisa satu lembar kepahitan. Kepedihan harus kutelan dengan menyatakan diri bahwa namaku bukan lagi siswi kelas unggulan.
Ingin rasanya aku menghilang lalu mencari sebab yang pasti dari apa yang sebenarnya terjadi. Aku sama sekali tidak mengerti dengan nilai yang tertera di Rapor. Saat itu rasanya semua hampa, bagaimana mungkin nilai yang tertera seperti nilai siswa paling nakal.
Selama ini aku belajar keras untuk bertahan. Menyelesaikan ulangan dengan cepat. Dan semua tugas kukerjakan dengan sangat baik, ternyata berusaha sesempurna mungkin tidak menjamin hasil akhir. Aku hanya butuh penjelasan dari semua ini. Namun rasanya mereka enggan memberi penjelasan pasti.
Lembar kertas ulangan dan tugas bisa saja menjadi bukti bahwa nilaiku selama ini bagus bahkan lebih tinggi dari nilai rata-rata di kelas.
Bagaimana mungkin dengan mudah mentahan nilai hangus tanpa jejak.
Apakah dosa jika membenci guru sendiri? Sampai kapanpun aku tidak akan lupa.
Dari kecil aku di didik untuk jujur dan kejujuran menjadi prinsip hidupku namun ternyata kejujuran justru kadang tidak dihargai.
Rasa trauma yang cukup parah membuatku menutup diri dari orang-orang. Apalagi saat ujian aku melihat banyak yang menyontek catatan, saat itu aku merasa bahwa benar adanya kejujuran di dunia ini hanyalah formalitas. Hingga tertanam dalam pikiranku bahwa sekeras apapun aku belajar, aku akan selalu bersaing secara tidak sehat.
Mungkin banyak yang mengenalku sebagai pribadi yang aneh, tertutup dan sulit ditebak karena memang aku hanya dekat dengan orang tertentu saja. Meskipun relasi pertemanan itu banyak.
Hingga suatu hari aku dipertemukan dengan orang-orang yang mengerti akan pribadiku dan membuatku sadar bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Setiap pertemanan pasti ada cacatnya, tidak ada pertemanan yang sempurna. Segala sesuatu pasti ada kelemahan dan kelebihannya. Aku hanya perlu belajar dewasa, saling mengerti dan menerima kekurangan.
Kini aku belajar untuk menyembuhkan luka hati melalui kehadiran orang-orang baik. Aku belajar memaafkan kejadian masa lalu, memaafkan semua orang yang menghakimiku dan memaafkan diri sendiri.
Menyembuhkan luka untuk kembali bangkit, membuka diri untuk berbagi kebaikan. Ikut organisasi dan mengembangkan hobi menulis hingga satu persatu karyaku terbit dan dibukukan.
Mentalku perlahan membaik namun ternyata Allah kembali mengujiku dengan sakit fisik. Ini hanya tipes, berlanjut saraf, yang kini harus berjuang dengan autoimun.
Prosesku rasanya begitu lambat dan tidak seperti perjalanan teman-teman di luar sana. Kini, aku harus mengonsumsi obat dan setiap pekan harus treatment.
Semua ujian itu justru membuatku lebih kuat. Allah menghadirkan begitu banyak orang baik mulai keluarga dekat, teman SD, SMA, teman kuliah hingga dosen- dosen terbaik di Kampus. Aku dipertemukan dengan orang-orang baru yang begitu peduli dan teman-teman pena yang selalu memberi semangat untuk tidak menyerah.
Melalui rasa sakit ini, Allah memberiku begitu banyak nikmat seolah Allah merangkulku dengan begitu baiknya.
Ujianlah yang membuatku sembuh secara mental. Meski fisik melemah namun aku bisa merasakan ketenangan. Ketenangan sejati di mana hati mampu memaafkan dan menerima apa yang sudah menjadi ketetapan Allah.
Dari kejadian rolling nilai beberapa tahun yang lalu membuatku sadar bahwa hidup ini tidak perlu terlalu berambisi karena jika Allah menghendaki sesuatu maka tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalanginya.
Kurniah K.