Apa kabar iman? Masihkah bersamaku, menemani langkah yang kian rumit ini. Terima kasih karena selalu setia mengisi catatan perjalanan diary kehidupan yang belum usai dan mengingatkanku untuk kembali berdiri disaat terjatuh.
Menapaki jalan hijrah memang tidak mudah. Ada begitu banyak rintangan dan pilihan di antara banyaknya kesenangan. Kesenangan yang justru berkesempatan menyesatkan lalu menjadi penyesalan.
Aku tidak pernah berniat untuk pacaran. Bahkan dalam hidupku tidak ada kata pacaran karena memang aku tidak pernah pacaran. Bukan tidak normal hanya saja aku tahu itu salah.
Membuka kembali catatan masa lalu rasanya seperti mengarungi badai panjang dengan perjalanan yang sedikit lucu dan mengerikan. Dulu, aku sering dekat dengan ikhwan, bisa dikatakan sangat dekat. Setiap malam bertukar kabar, sudah makan belum, diingatkan jaga kesehatan dan semua terasa indah.
Ditambah sering selfie tidak jelas dengan muka pas-pasan yang kelewatan pede, dibonceng siapa saja boleh .... Astagfirullah itu dulu. Namun prinsip hidup yang tidak pernah mau pacaran dan selalu menolak saat ada yang menyatakan perasaannya. Iya dengan polosnya aku tolak tanpa pikir panjang, yang ternyata sikapku itu seolah membuat kecewa dan mereka seketika menghilang.
Kebiasaan sering upload foto selfie padahal sadar sebagai kader lembaga dakwah. Menjadi mahasiswi baru memang sangatlah hobbi pamer foto setiap aktivitasnya di kampus apalagi saat dipuji rasanya sedikit melayang.
Setiap hari ada saja yang memberikan semangat. Juga tiap Minggu pasti ada saja yang curhat. Padahal semua itu tidak penting. Hanya kebahagiaan semu dan hadirnya para modus keren dihidupku ternyata sangat membahagiakan meski itu sementara saja, hanya sekedar singgah.
Aku tidak pernah mendapat teguran sama sekali melainkan sebuah pujian dengan segala pencapaian. Namun ternyata kebahagiaan itu sirna saat ada satu teguran dari syiar lembaga dakwah.
Selama ini aku tidak pernah sadar jika setiap postinganku selalu diperhatikan salah satu Ikhwan yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri. Foto selfie di story wa ditegur, untung saja tegurannya seperti bercanda yang tidak begitu berpengaruh di kepalaku. Memang aku kepala batu.
Padahal pakaian yang kukenakan teramat Syari namun tenyata aku seperti sampul berjalan. Tidak mengerti seperti apa hidup seorang muslimah yang seharusnya. Aku mengenakan jilbab sesuai tuntunan Islam namun tanpa sadar aku tidak menghargai diriku sendiri. Semua hal dilakukan demi kepuasan dan kepopuleran semata.
Perbincangan yang tidak pernah terlupakan itu terus menghantui pikiranku, 'Dek, kalo bisa fotonya di sensor takutnya nanti ada ikhwan yang pandangannya menaruh lebih terus sampai kepikiran' pesan kak Rain yang kupandang sangat biasa dan memilih memprivasi status pengecualian kontak kak Rain. Belum kapok juga.
Setelah sholat isya ada sebuah pesan dari kontak yang baru dan mengatakan jika foto diupload seperti itu bagaimana jika Ikhwan ada yang berpikir aneh-aneh.
Sampai sekarang pesan itu masih terngiang. Ternyata itu adalah teguran keras yang pernah kubalas dengan bercandaan dari seorang Ikhwan lembaga dakwah yang berani menegurku. Aku begitu malu jika mengingat hal itu. Meskipun ia telah kuanggap sebagai saudara namun tetap saja itu sangat memalukan.
Berapa banyak Ikhwan yang telah melihat postingan wajahku seakan aku menebar dosa dengan begitu bangganya. Lalu hanya ada satu yang berani menegurku dan tidak lain merupakan orang yang sangat kuhindari.
Menjadi lebih baik memang butuh proses juga butuh dukungan dari lingkungan. Aku terlalu terbawa arus dunia yang hina. Semakin hari aku semakin memikirkan teguran itu.
Aku telah kehilangan arah. Apa yang selama ini aku lakukan itu salah. Memang, tidak pacaran tapi selalu cari perhatian pada pandangan yang tidak halal.
Mulai hari itu aku mengganti kontak, akun medsos dan menghapus semua pertemanan yang tidak penting. Dan inilah aku yang sekarang, sedikit teman tidak apa asalkan berkualitas dan mau mengajak pada kebaikan.
Menjadi orang lain dan pura-pura menerima keadaan, bersikap baik-baik saja di tengah keramaian dan tersenyum saat tidak dihargai sama sekali ternyata itu sangat menyakitkan. Aku memilih menjauh dari orang-orang yang tidak suka dengan perubahanku.
Tidak ada yang perlu dihakimi. Aku hanya salah menempatkan diri. Di sana bukan tempatku, sok asik bukan duniaku. Itu hanya menguras energi. Tidak ada yang perlu disalahkan. Aku sadar bahwa lingkunganlah yang tidak tepat.
Makanya aku memilih pergi, menjadi diri sendiri dan menemukan kembali diriku yang dulu. Pendiam dan bicara sewajarnya saja.
Menjadi muslimah sejati merupakan suatu pilihan. Aku adalah aku. Jangan rendahkan kata aku karena diriku adalah aku yang terlupa dan apa adanya. Tanpa pengkhianatan dan penghinaan.
Tuhanku menciptakan setiap makhluknya berharga dan istimewa. Aku akan berubah dengan caraku sendiri. Tidak perlu iri. Jangan lihat story apalagi story tidak penting. Juga jangan buat story tentang prosesmu karena akan banyak perbincangan semu. Cukup sibuk memperbaiki diri, mencari info sebanyak-banyaknya, maksimalkan usaha dan gunakan setiap kesempatan. Fokuslah berproses, kembangkan apa yang ada sekarang dan jadilah manusia yang berkualitas bukan manusia pasaran.
Alhamdulillah aku dipertemukan dengan manusia yang mau mengingatkanku ke jalan yang benar. Melalui teguran syiar lembaga aku mulai berubah. Mulai ikut kajian dan anti posting foto selfie.
Kemudian aku mengerti bahwa bukan status pacaran yang salah melainkan aktivitasnya. Zina itu ada banyak jalan bisa jadi hati dan pikiran maka jangan pernah mendekati zina.
Seperti ada warna baru. Ternyata sibuk memperbaiki diri itu sunyi namun damai. Tidak ada lagi notifikasi modus yang membuat baper melainkan notifikasi murojaah hafalan. Teguran hijrah syiar dakwah telah menuntunku untuk mendekatkan diri pada sang kuasa.
Sejak saat itu aku mengerti bahwa betapa berharganya seorang muslimah. Jika ingin dihargai maka mulailah menghargai diri sendiri untuk menjadi lebih baik karena Allah telah menciptakan wanita dari ujung kepala hingga kaki dengan begitu indahnya.
Kurniah K.