Keajaiban Berbagi

    Menjadi mahasiswa akhir tidaklah mudah. Begitu banyak kekhawatiran dan segala hal yang dipikirkan dari berbagai arah. Project penelitian yang tak kunjung menemukan titik terang karena terkendala dana dan tenaga. Ditambah gaji pekerjaan yang belum ada kejelasan.
      Masalah di kepala semakin beradu saat aku menyandarkan diri di dinding Masjid Kampus. Tempat ternyaman untuk menepi dan menghabiskan penat. Hampir setiap hari aku mendatangi Masjid Kampus karena bagiku itu satu-satunya tempat terdamai di tengah ramainya kebisingan dunia yang sibuk.
      Pandangan sendu sudah tidak asing, wajah tua kurus di sudut Masjid selalu saja hadir dengan sekantong besar tisu yang dijajakan setiap hari. Si Nenek penjual tisu yang selalu kutemui dengan ucapan sepuluh ribu tiga. Harga tisu disodorkannya setiap bertemu orang. Meski beberapa kali ia harus kecewa karena banyak yang menolak, sama sepertiku.
      Tidak pernah mau membeli dagangan yang dijajakan di sembarang tempat karena trauma dengan rasa iba yang salah. Dulu sering berbagi dengan anak penjual tisu tapi ternyata anak-anak itu hanyalah suruhan dari orang tua yang tidak bertanggung jawab. Aku sendiri yang memergokinya saat sedang berbagi hasil dan anak-anak itu juga mengakui semuanya. Maka sejak saat itu aku berpikir dua kali jika ingin memberi bantuan kepada orang yang tidak dikenal.
      Tidak perlu iba. Si Nenek penjual tisu itu juga sama sepertiku. Sedang berusaha menaklukkan kerasnya hidup, pikirku. Hati masih saja memandanginya. Seolah berteriak minta tolong kepadaku. Tanganku tidak begitu egois, segera bergerak cepat mengambil sepuluh ribu rupiah dan kusodorkan pada tangan keriput.
      Aku tidak mampu melihat pemandangan seperti itu. Seharusnya Si Nenek penjual tisu tidak perlu lagi tergopoh-gopoh keliling kampus untuk menawarkan belas kasihnya. Ternyata negeriku tidak cukup sejahtera begitu juga diri ini yang belum bisa berbuat apa-apa.
      Hari itu bukan yang terakhir. Setiap hari aku melihatnya. Hingga suatu hari kesibukan mulai bersatu. Sejak pagi buta aku harus berangkat praktikum dan siangnya harus melanjutkan penelitian. Sangat buru-buru menuju Fakultas.
      Di depan Gerbang Fakultas aku ditawarkan tisu seharga lima ribu per bungkus oleh seorang nenek-nenek. Bukan yang kemarin, si Nenek ini beda. Tanpa pikir panjang aku segera menyodorkan uangnya sambil mempercepat langkah namun nenek itu masih berusaha mengejar. Sampai di lantai dua si Nenek penjual tisu masih mengejar .. Apa uang yang kuberikan tidak cukup. Itu selembar biru pasti sudah sangat lebih. Ternyata si Nenek malah mengembalikan uangnya karena tidak punya uang kecil. Sudahlah aku ikhlas dan memasukkan uang itu ke kantong Si Nenek penjual tisu. Ia tersenyum dan berterimakasih. Dan hatiku mulai luluh.
      Selalu saja dihadapkan dengan hal yang membuat mataku terasa perih dan ingin menangis. Jika tentang orang tua aku sungguh lemah. Tetap menjaga image, sosok petualang sepertiku tidak selemah itu. Ini kampus dengan segala profesionalitasnya. Menjadi asisten praktikum haruslah terlihat profesional di mata praktikan. Seolah tidak terjadi apa-apa.
      Berbagi kebaikan di akhir semester merupakan keinginannku sejak menjadi mahasiswa karena cara terbaik bagiku untuk berbagi adalah dengan ilmu. Seperti kata Papah, ilmu itu tidak ada habisnya. Juga dengan cara ini aku bisa berkontribusi sebagai ucapan terima kasih untuk kampus tercinta.
      Aku tidak mengerti makna sedekah yang sebenarnya apa. Yang aku tahu sejak kecil Papa mengajarkan untuk berbagi dalam keadaan apapun dan sekeras apapun hidup. Jika masih bisa dibagi maka berbagilah dengan ikhlas selama dalam kebaikan.
      Masih dengan cerita penelitian, bahan yang belum juga ada kejelasan. Aku mulai mengeluh pada kedua temanku saat sedang menyantap makan siang di Warung depan Kampus. Bagaimana bisa aku tidak kesal, sudah satu Minggu sampelku belum tiba dan masalah bayaran tidak ada kejelasan sama sekali. Namun kedua temanku bukan tempat curhat yang tepat melainkan motivator yang selalu berkata sabar, sabar, nanti ada keajaiban.
      Bergegas pulang dan mengambil selembar uang. Niatnya mau mengambil selembar lima puluh ribu. Tapi aneh si biru hilang, terpaksa aku menyodorkan si merah merona seratus ribu. Yahh pecah lagi padahal harus hemat. Jika rezeki pasti tidak akan ke mana. Berusaha meyakinkan diri.
      Beberapa hari kemudian. Mbak Warung waktu itu memanggilku seperti buru-buru, lalu menyodorkan seratus lima puluh ribu. Mataku seketika cerah, mungkinkah ini kejutan. Bukan, itu uangku sendiri yang jatuh di Warung si Mba waktu makan siang. Alhamdulillah wajahku terngiang juga sampai dihafal dan mengembalikan uangku. Aku pikir itu sudah bukan milikku lagi dan sudah kuikhlaskan makanya kuberikan saja meski si Mba awalnya menolak. Orang jujur seperti itu harusnya mendapat lebih. Padahal asli uangku sisa selembar dua puluh ribu, cukup untuk hari ini dan besok ... pikirnya nanti saja.
      Keajaiban ternyata benar ada. Kubaca lagi balasan e-mail dari Pembimbing. Jurnal praktek lapanganku terbit di Lembaga Penelitian Indonesia. Juga ada balasan WhatsApp dari Peneliti. Bahanku segera dikirim dan tidak perlu ada bayaran apapun. Bukan hanya itu, aku juga tersenyum menatap pemberitahuan dari Laboran praktikum yang artinya saldo di rekening mulai terisi.
      Sedekah dan keajaibannya itu benar nyata. Ketika menghadirkan ikhlas dan syukur, seketika Allah memberikan kejutan dengan rezeki yang datangnya tak terduga. Berbagi ternyata menyenangkan dan menjadi kan pekerjaan lebih berkah.
      Sejak saat itu aku tidak pilih-pilih lagi saat akan berbagi dan selalu membiasakan diri untuk bersedekah ke pada yang berhak menerimanya. Karena sebagian harta yang diberikan oleh Allah mungkin saja merupakan sebuah amanah yang dititipkan agar diri senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya.
      Bersedekahlah meski sedikit karena bukan jumlah yang membuat nilainya berharga melainkan harga keikhlasan. Tetap luruskan niat saat berbagi dan sebaik-baiknya berbagi yaitu ketika tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanan. Kejarlah berkahnya tanpa harus terang-terangan dalam bersedekah.


Kurniah K.