Ekspektasi tidak seindah realita dan rencana manusia bagaikan zero ekspectation.
Apa artinya rencana tanpa usaha, semua terjadi atas kehendak Allah. Merencanakan itu sangatlah mudah, tapi sejatinya rencana pasti ada saja ujiannya.
Perkuliahan juga bukan kompetisi cepat lulus namun bagaimana status keberhasilan akal memahami setiap hikmah perkuliahan dan mampu berperilaku layaknya manusia.
Cepat lulus syukur, yang telat lulus jangan dijudge pemalas.
Meski rencana sering di luar kendali, seharusnya semua berusaha memahami keadaan. Karena Setiap insan punya alasan untuk bertahan.
Semester ini aku berharap yang terakhir dan wisuda bulan September 2021 nanti, tapi sedihnya tidak ada yang mendukung soalnya kondisiku juga belum sehat bahkan tidak ada masukan yang baik. Malah membuat beban dipikiran, apalagi orang sudah bertanya kapan wisuda, kapan sembuh, memangnya aku Tuhan? Mana tahu sembuhnya kapan. Kadang jengkel juga ditanya tanya.
Katanya, semester ini mustahil bagiku untuk wisuda tapi bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Bayangkan saja, ketika semua sudah lulus aku harus berjuang sendiri, ketika semua sibuk mengejar tanda tangan justru aku sibuk berobat ke sana kemari dan ketika teman-teman sudah mengenakan toga justru aku harus merasakan pahitnya obat setiap hari. Ketika seangkatan sibuk mempercantik diri, aku malah sibuk berperang dengan diri sendiri.
Itu tidak mudah, berat? Jelas. Pantaskah membandingkan diri dengan mereka? Tidak. Karena aku yakin Allah merencanakan hal yang lebih indah.
Selalu berusaha karena kekuatan Allah aku masih bertahan dan diberikan kesempatan untuk terus bernapas. Keadaan memaksaku untuk sejenak memperlambat proses. Bukan karena malas mengerjakan skripsi namun semenjak akhir penelitian aku harus berjuang hidup.
Ekspektasiku seharusnya lulus dengan predikat tercepat namun ternyata semua itu harus tertunda selama tiga semester. Banyak yang mencari, di kampus bahkan di media sosial. Aku hilang dan menepi pada takdir.
Bukan menyerah hanya saja berhenti hadir di antara kebisingan mulut-mulut berisik.
Tidak masalah jika saat itu banyak yang menghakimi situasiku secara sadar. Penyakit autoimun sangat sulit dimengerti, kepala dan seluruh tubuh seakan terpukul setiap hari.
Saat terpejam yang terngiang hanyalah susunan skripsi. Kemudian aku terbangun kembali dan mengerjakan sedikit demi sedikit pembahasan hingga analisis meski setelah itu harus menangis karena kesakitan.
Bulan berlalu, skripsiku selesai dan kuaktifkan kembali kontak perkuliahan. Pikirku tidak ada yang mencari, ternyata setiap pekan dosen pembimbing mencari keberadaanku, menghubungi lewat wa bahkan Instagram. Semua mencari, hingga aku memberanikan diri menceritakan semua kondisiku pada tim penelitianku dulu yang beberapa Minggu lagi akan wisuda.
Tiba-tiba sedih karena revisian, murung karena perkataan orang,. Kadang tangan susah buka laptop, susah pegang hp, menatap laptop terasa buram, tidur tidak jelas. Memberanikan diri untuk menyelesaikan semua proses bimbingan. Sampai akhirnya skripsiku ACC dan siap ujian tutup.
Menjelang ujian tutup kondisiku semakin parah. Kaki mulai sulit bergerak dan kepala rasanya mau meledak. Namun, dengan tekad yang kuat aku mengatakan akan berusaha. Padahal, saat itu kondisiku sangat lemah. Hanya terbaring di kamar sedangkan untuk ujian harus mencari tempat dengan jaringan yang cepat karena aku sedang tinggal di kampung sejak pandemi.
Tidak berhenti berusaha. Surat persetujuan seminar dan persyaratan berkas sudah berhasil mendapat tanda tangan yang berarti aku harus ujian. Sedangkan waktu pendaftaran wisuda tersisa lima hari dari tanggal 19 Agustus 2021. Sangat kecil kemungkinan untuk selesai. Karena ternyata masih ada berkas asli yang harus dikumpulkan secara offline di Akademik. Lagi-lagi aku terkendala karena Kampus tempat kuliahku berada di luar daerah.
Pasrah adalah pilihan terbaik. Aku segera menghubungi dosen sekertaris jurusan dan menyatakan bahwa ujianku harus diundur dan meminta pendapat agar aku membayar SPP saja untuk lanjut semester depan. Setelah itu, aku mendapat telepon dari dosen bahwa ujianku benar ditunda sampai semester depan.
Ikhlas dengan apapun yang terjadi. Meskipun harus berada di titik terlemah, terbaring tak berdaya. Semua menjauh dan keadaan seakan saling menyalahkan sedangkan satu harapan kuterbangkan, tidak dapat berdiri dan dalam kondisi lemah menghadap sang kuasa.
Waktu berganti. Seketika Allah mengurus semuanya. Begitu banyak orang baik yang dihadirkan-Nya. Kasih sayang dari keluarga dan orang terdekat seolah Allah merangkulku dengan lembutnya.
Pihak kampus mengetahui kondisiku yang sebenarnya dan segera menghubungiku untuk tidak membayar SPP dan ada perpanjangan waktu pengurusan untuk mahasiswa akhir. Sungguh, itu adalah keajaiban bagiku. Pokoknya aku cuma doa saat itu. Dan ternyata, salah satu dosen yang tidak bisa kusebut namanya mengurus semua berkasku dengan begitu mudahnya. Doa dan semangat yang setiap waktu diberikan dari dosen pembimbingku, semua pihak berharap agar aku bisa melewati semuanya.
Pada tanggal 24 Agustus 2021, ujian tutup selesai dan tersisa satu tahap lagi yaitu yudisium. Tidak ada jadwal yang tentu, tiba-tiba pada tanggal 27 Agustus harus yudisium. Karena kabar yang tiba-tiba, aku tidak sempat lagi mencari jaringan yang baik untuk ikut zoom. Kondisiku sedang drop, tangan dan kaki mulai kaku. Kepala mulai pusing dan sangat lemas, seketika hp di tangan jatuh. Usahaku untuk ikut yudisium tidak berhasil. Satu persatu panggilan masuk dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah menikmati rasa sakit dalam keadaan setengah sadar hingga semua gelap.
Kemudian pada tanggal 30 Agustus 2021, aku mendapat pemberitahuan dari kampus bahwa berdasarkan keputusan dekan dan dari berbagai pihak dengan segala pertimbangan namaku tetap dikukuhkan sebagai sarjana sains pada jadwal yudisium yang lalu.
Jika fokus pada sakitnya, mungkin aku akan terus hidup dalam derita. Namun, aku selalu fokus pada hikmahnya untuk ikhlas dan sabar menerima ketetapan Allah.
Jangan terlalu serius menanggapi dunia karena semua hanya titipan dan akan dikembalikan.
Tidak perlu berekspektasi terlalu tinggi bahwa usaha tidak akan menghianati hasil. Kata siapa usaha akan sejalan dengan hasil, Bukankah manusia hanya diperintahkan berikhtiar semampunya dan segala hasil baiknya serahkan pada Allah.
Kurniah K.